Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu untuk Allah

مَا تَرَكَ عَبْدٌ شَيْئًا لِلَّهِ ، لَا يَتْرُكُهُ إِلا للَّهُ إلاعَوَّضَهُ مِنْهُ مَا هُوَ خَيْرٌ لَهُ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ
“ Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu untuk Allah dan ia tidak meninggalkannya kecuali kerana Allah kecuali Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya dalam urusan agama serta keduniaannya.”

Status

Hadis Palsu (Maudhu’)

Ulasan

Hadits tersebut maudhu’. Saya sendiri pernah mendengar kata-kata tersebut diutarakan oleh seorang tokoh yang tengah mengisi acara radio Damaskus pada bulan Ramadhan.
Abu Naim telah mengutarakannya dalam kitab Huliyyatul-Auliya II/196, kemudian ia berkata, “ Itu hadits gharib (asing).” Menurut saya, sanadnya maudhu’(palsu) sebab yang sesudah az-Zuhri tidak disebutkannya sama sekali dalam kitab-kitab hadits selain Abdullah bin Sa’ad ar-Raqi dan dia dikenal sebagai pendusta. Ad-Daru Quthni menyatakannya sebagai pendusta seraya berkata, “Dia adalah pemalsu hadits.”

Sumber

Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’